Jumat, 31 Desember 2010

2010, bye bye. . .

2010 itu. . .
belajar tentang caranya tersenyum dari seorang yang angkuh
belajar melupakan tanpa kata mendendam
belajar caranya berdiri setelah jatuh dilubang yang sama

Minggu, 05 Desember 2010

kamu mau sukses kan?

Hidup seseorang emang berbeda-beda. Ada yang cepet sukses, ada yang kalau mau sukses mesti banting tulang dulu, ada yang baru gagal sekali tapi putus asanya berkali-kali, ah apa pun cobaan itu mukanya jangan melas gitulah sodara-sodara. Senyum yok ! gagal di yang ke 99 yo gak papa, lanjut aja terus. Mungkin suksesnya di yang ke 150, syukur-syukur yang ke 100.

Gagal itu proses untuk mencapai kesuksesan



tuan putri, selamat datang di dunia nyata :)

untuk tuan putri yang baru terbangun dari tidur panjangnya, saya mau mengucapkan selamat datang di dunia nyata. perlu saya beri petunjuk kalau di dunia ini banyak orang-orang yang memakai topeng untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya, jadi tuan putri perlu waspada dan berhati-hati. bukan bermaksud buat menakut-nakuti tapi itulah kenyataan hidup di dunia nyata. SELAMAT DATANG dan SELAMAT MENIKMATI, sekali lagi hati-hati sama orang yang bermuka dua :)

Minggu, 14 November 2010

sebuah jeda


kepergian. . .

di isyaratkan lewat sebuah pelukan, lambaian tangan, tangisan, senyuman miris atau bahkan lewat rangkaian kata yang terbentuk menjadi sebuah salam perpisahan

berkesan tak punya perasaan, tapi itu lah hidup dan realita

bahkan lebih "indah" ketika dilakukan tanpa meninggalkan pesan

*seperti taksido bertopeng yang muncul tiba-tiba dengan mawar merahnya dan pergi tanpa pesan dengan segala kemisteriusannya*

dan ketika waktu telah bicara

maka semua rangkaian peristiwa tadi hanya akan membuat kita tersenyum kecut di masa yang akan datang

ah peduli setan !

Minggu, 17 Oktober 2010

tentang temennya si komo *oopppss*

Tertunduk dan menatap ujung sepatuku

Menelaah setiap huruf dari sebuah pertanyaan “kamu lagi jatuh cinta ya?”

Mencari tahu dimana letak kesalahan yang telah aku perbuat

Bukan pertanyaan menghina bukan pula pertanyaan menyudutkan

Tapi ada yang terdiam setelah aku menanyakan pertanyaan itu J

Sebuah perjuangan untuk memisahkan rasa dan persahabatan itu gak gampang. Butuh banyak purnama dan pergantian musim untuk mencapainya. Berkali-kali saya berjalan kearah barat untuk bertanya pada sang senja, dan selalu dengan jawaban yang sama “gak ada yang salah dengan rasa dan persahabatan, biarkan mereka berjalan beriringan dan dengan porsi yang pas tanpa ada yang berlebihan, pasti semua itu bakal terasa indah”. Pernah sekali saya berjalan kearah timur dan bertanya kepada sang surya yang baru nongol, dengan gampang sang surya menjawab “bilang klo kamu sayang sama dia, abis itu pasti lega” *baaahhh jawaban macam apaan ini*. Tak puas dengan jawaban mereka dan saya putuskan besok saya mau bertanya kepada sang rembulan, tapi saya masih bingung mesti berjalan kearah manakah untuk mencapai sang rembulan.